Tantangan Dunia Kesehatan di Era Perdagangan Bebas

•Mei 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

doctor in modern era

dokter masa kiniDunia perdagangan global akan memasuki babak baru di tahun 2020 yang disebut dengan era perdagangan bebas. Inti pokoknya dalam perdagangan bebas ini bahwa tidak ada lagi hambatan dalam menyelenggarakan perdagangan internasional. Di satu sisi, liberalisasi perdagangan jasa menjanjikan banyak dampak positif seperti terbukanya pasar untuk menjual barang dan jasa dari dan ke luar negeri, akan meningkatkan pendapatan, yang akhirnya berperan dalam meningkatkan kemakmuran negara-negara sedang berkembang. Tetapi, di sisi lain, liberalisasi punya dampak buruk yang patut untuk dicermati seperti meningkatnya penularan penyakit misalnya HIV/AIDS, flu burung, ebola, serta pencampuran budaya atau eradikasi budaya dan banyak lagi, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan dari satu negara ke negara lain. Continue reading ‘Tantangan Dunia Kesehatan di Era Perdagangan Bebas’

Gizi Buruk Masih Mengancam

•Mei 6, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dunia kesehatan Indonesia masih dibayang-bayangi satu masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini. Masalah tersebut adalah kasus gizi buruk dan rendahnya status gizi di beberapa daerah di Indonesia. Sepertinya, para pemegang kebijakan di negeri ini harus berpikir keras untuk segera menyelesaikan permasalahan ini karena memang bukan masalah yang main-main. Anak balita merupakan sumber daya untuk masa depan bangsa ini sehingga harus benar-benar diperhatikan perkembangannya. Berdasarkan angka human development index (HDI), Indonesia menduduki peringkat ke 112 di dunia. Artinya, seharusnya sub masalah kesehatan ini harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah kalau negeri ini masih ingin di anggap sebagai negeri yang peduli akan kualitas kesehatan penduduknya. Continue reading ‘Gizi Buruk Masih Mengancam’

The truth Of Inconvenient World

•Mei 6, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Inconvenient world, sebuah film yang membuka pikiran kita akan sebuah proses alamiah yang terjadi di dunia seiring dengan berbagai aktivitas manusia yang menjajahnya. Film yang berdurasi dua jam tersebut menggambarkan tentang keadaan dunia yang semakin menyimpang dari titik keseimbangan yang membuatnya sudah tak bersahabat lagi dengan setiap makhluk hidup yang menghuninya. Tanpa kita sadari, sedikit demi sedikit kelalaian yang kita buat dalam menjaga dan merawat alam sekitar kita menjadi bumerang yang amat dahsyat bagi kehidupan manusia seluruhnya. Pelan tapi pasti, berbagai aktivitas alamiah yang mejadi penunjang kehidupan manusia di bumi mulai bergeser dari siklus normalnya. Cuaca yang tak lagi menentu, silkus hujan yang tak bisa diprediksikan, dan berbagai keanehan alam yang terkadang tak disadari oleh kebanyakan manusia. Perubahan suhu rata-rata bumi dikarenakan bumi menyerap energi lebih banyak dari yang dilepaskannya kembali ke atmosfer, sehingga sinar matahari terperangkap dan manajdikan permukaan bumi relatif lebih panas. Imbasnya, terjadi kerusakan permanen pada alam yang dihuni oleh manusia. Continue reading ‘The truth Of Inconvenient World’

Dokter dan Profesionalisme Kerja

•Mei 6, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

“being a good doctor is listening” (DR Barry Bub)

Dokter, sebuah profesi yang masih mendapat tempat yang istimewa di mata masyarakat. bukan hanya karena kedalaman ilmunya, tetapi karena jiwa kemanusiaannya yang akrab dengan tugasnya yang amat mulia, yakni menyelamatkan nyawa orang. Tetapi, sepertinya kesan baik itu sudah mulai luntur dengan banyaknya tingkah laku dokter yang mulai menimbulkan rasa was-was kepada pasien. Faktanya, tidak jarang, dokter melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak lazim dalam menjalankan tugasnya. Hal ini diistilahkan dengan kata mal praktik, yang ironisnya tak jarang menyebabkan kerugian yang amat besar kepada pasien. kesalahan-kesalahan yang terjadi saat proses pelayanan seorang dokter tak jarang karena disebabkan oleh kelailaian si dokternya sendiri, padahal bisa jadi, kekurang telitian tersebut sebenarnya bisa dihindari. Mal praktik yang kian digaungkan di tengah pasar kesehatan negeri ini merupakan salah satu celah ketidakprofesionalan dokter dalam mengemban amanahnya. Continue reading ‘Dokter dan Profesionalisme Kerja’

Melindungi Perokok Pasif, Perlukah?

•November 12, 2007 • 1 Komentar

Banyak orang yang mengatakan bahwa merokok merupakan hak asasi manusia, sehingga perlu adanya toleransi kepada perokok untuk tetap dapat merokok, dimanapun perokok tersebut ingin merokok. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang tidak merokok, dan dengan terpaksa harus menghisap asap rokok yang dikeluarkan oleh orang lain? Apakah mereka tidak memiliki hak asasi untuk menghirup udara bersih yang tidak tercemar asap rokok? Jika demikian yang terjadi, maka upaya penegakan keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia yang dilakukan adalah pincang! Continue reading ‘Melindungi Perokok Pasif, Perlukah?’

Dokter dibawah bayang-bayang UUPK

•November 12, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Diberlakukannya UUPK (Undang-Undang Praktik Kedokteran) No. 29 tahun 2004 sejak tanggal 6 Oktober 2005 lalu mengawali babak baru regulasi pelayanan kesehatan di negeri ini. Berbagai pro dan kontra membayangi pengesahan regulasi baru yang mengatur tentang praktik  dokter di Indonesia. Semangat perbaikan pelayanan kesehatan dan usaha untuk mencapai tujuan pelayanan kesehatan yang mudah diakses (accessible), terjangkau (affordable), dan bermutu (quality) menjadi motor penggerak para pejabat-pejabat kesehatan di pemerintahan untuk menelurkan sebuah kebijakan yang dibingkai dengan format perundang-undangan. Selama ini peraturan perundangan yang mengatur praktik kedokteran memang telah ada,namun baru dalam bentuk permenkes yang formatnya pun belum terintegrasi dan komprehensif dibandingkan UUPK yang kita punyai sekarang. Dengan legalisasi peraturan baru ini diharapkan dapat menjadi media yang bisa untuk memberikan perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi dokter/dokter gigi maupun penerima pelayanan kesehatan. Continue reading ‘Dokter dibawah bayang-bayang UUPK’

Dokter: Pengabdian atau Uang?

•November 12, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pemandangan yang biasa di sebuah rumat sakit swasta terbesar di Jakarta. Puluhan orang berpakaian rapi sudah menunggu di depan ruang praktik dokter X, menunggu saatnya diizinkan bertemu dan berkonsultasi dengan dokter tersebut. Mereka bukanlah pasien yang menunggu antrian periksa dokter tersebut, tetapi mereka adalah calo-calo obat (biasa disebut dengan medical representative) dari berbagai perusahaan di negeri ini. Ya, seperti itulah gambaran salah satu cara delivery obat-obatan kepada konsumen melalui dokter. Mengapa dokter menjadi primadona produsen obat? Karena ditangan dokter lah resep terhadap pasien ditentukan. Dokter menjadi aktor utama yang mengetok palu terakhir perihal obat-obat apa saja yang akan di konsumsi oleh pasien. Otomatis, ada celah komersialisasi dalam proses komunikasi ini. Dan yang paling berkepentingan terhadap fenomena ini adalah para produsen obat. Bisa saja, banyaknya keuntungan penjualan obat tersebut diraup di atas penderitaan orang lain, karena dalam penyimpangan etika seperti ini yang paling dirugikan adalah pasien sebagai konsumen pelayanan jasa kesehatan. Continue reading ‘Dokter: Pengabdian atau Uang?’

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.